Engkau MengujiNya

Lalu engkau lalai
terpedaya
tak kuasa melawan lupa
hanyut melawan hawa

Lalu engkau sendiri saja
Sendiri saja
MeninggalkanNya
Dalam luka
Lagi,
Dan lagi…

Kau tau kau kira Dia sendiri sepertimu
Merana, kesepian, hampa,
dan pasti akan mencarimu…
Lagi, seperti dulu..

Dulu kau ingat
Bukan engkau yang membutuhkanNya
Tapi Dia!

Tapi kenapa tidak kali ini?

Sebab Dia telah mati…

Kau yang membunuhNya!
Kau lupa?

Saat senja memerah… diujung pagi…
Dengan tanganmu sendiri…

Hanya untuk mengujiNya, apakah Dia lebih membutuhkanmu?

atau kau!!?

 

(Syahdan, Februari 2017)

Advertisements

15 tahun untuk Ciptaning?

logo-final

Setelah menghabiskan waktu selama 15 tahun hanya untuk menemukan satu identitas tunggal yang dapat mewakili visi “saya” melalui sebuah nama, maka terpilihlah “Ciptaning” sebagai satu identitas yg paling mendekati apa yang menjadi “laku” dan “lakon” dalam hidup sejauh yang bisa saya pikirkan dan kerjakan. Dimulai dari tahun 2010 tepat ketika saya selesai mengikuti program master di ITS Surabaya. Beragam identitas, mulai dari nama diri, visi, antara lain: “arikkurnia”, “akur” (akronim dari arik kurnianto), “myperspektifview” yang terinspirasi dari blog seorang jagoan desain asal Jogja bernama Arif Budiman dengan blog kerennya “mybothside”, juga yang agak aneh tapi saya suka; “kapoklombok” yang saya anggap mampu merepresentasikan karakter saya yang ngga pernah kapok! layaknya orang yang kepedasan setelah makan sambal. Termasuk nama yang berhubungan dengan dunia DKV yang menjadi background studi saya seperti; designaid, desirer (designer+researcher), hingga “designtist” (designer+scientist) yang agak sok ilmuwan! dan seterusnya. Hingga yang berhubungan dengan dunia animasi yang saya geluti 5 tahun terakhir ini melalui: animacinema, jurnalanimasi, animasiindonesia, dsb. Jika ditotal sudah ada 20an nama hanya untuk “menemukan” sebuah nama yang pas dengan identitas yang ingin saya bangun (Berlebihan memang, haha). Bahkan beberapa nama tersebut sudah saya beli domainya, tapi akhirnya tidak pernah terpakai dan akhirnya menguap begitu saja.

Hingga ketemu nama kuno, “Ciptaning”. Nama yang diambil dari lakon wayang “Begawan Ciptaning/Mintaraga”. Nama ini sebenarnya sudah akrab sejak saya kecil karena kesukaan saya nonton wayang. Namun nama ini akhirnya hilang dari ingatan saya setelah saya dewasa, hingga nama itu keluar lagi beberapa bulan yang lalu. Nama itu muncul ketika dalam “tapa” 5 tahun hanya untuk menemukan apa yang sesungguhnya saya cari, saya senangi, renungi, gelisahi, yang menjadi “passion” saya dalam hidup. Semenjak kuliah semester pertama saya di DKV “terpesona” dengan kemilau dunia komputer grafis, meninggalkan aktifitas yang dulu sangat saya sukai, menggambar manual. 10 tahun setelah menggeluti dunia komputer grafis dengan menjadi pengajar juga freelancer yang selalu berhubungan dengan komputer grafis dan multimedia desain, hingga mengambil program master di teknik Elektronika dengan peminatan game teknologi membuat saya bosan dengan komputer grafis! Apalagi setelah tangan saya mengalami kesakitan yang aneh akibat “sindrom” karena terlampau lama memegang mouse. Maka pada 2010 saya mulai memutuskan untuk mencari “jati diri” dan memutuskan untuk “berhenti” dari dunia komputer grafis dan multimedia dan mencari dunia baru dengan menggeluti dunia “riset”. Saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan membaca beragam literatur, untunglah kegilaan saya pada membaca yang sudah mulai pudar setelah bekerja mulai muncul kembali. Disitulah saya mulai menyepi, “bertapa” dan banyak berdialog dengan diri sendiri. Hingga akhirnya pada 2012 meskipun berat, saya memutuskan untuk hijrah dari Jogja, pindah ke Jakarta dan mengajar di kampus level Sarjana (Sebelumnya saya mengajar di akademi yang kental aspek praktisnya daripada teoritiknya) untuk lebih dapat mengaktualisasikan kegemaran baru saya ke dunia akademik melalui riset dan teori.

Tetapi, mengajar di kampus S1 tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Mengampu mata kuliah yang lebih teoritik dan kesempatan melakukan riset yan lebih serius harus sirna setelah menghadapi kenyataan bahwa dunia akademik tingkat sarjana ternyata tidak ada bedanya dengan diploma. Muatan praktiknya dengan beragam tools teknisnya justru lebih terasa dan semakin besar porsinya. Akhirnya saya harus kembali mengajar mata kuliah komputer grafis dengan SKS bejibun! dua kali lipat dari total SKS yang dulu pernah saya ajarkan di Jogja, sehingga saya harus full mengajar dari pagi hingga malam hari. Tetapi sebagai pengajar profesional saya tetap harus menjalaninya dengan maksimal. Saya yakin suatu saat dengan lebih banyak berinteraksi dengan rekan-rekan kerja di kampus baru juga dengan mahasiswa pada saatnya apa yang saya impikan akan terwujud. (Bersambung).